kegelisahan terdalam

Kegelisahan Terdalam


Tidak ada yang salah bila seorang hamba Allah jatuh Cinta. Bukankah Cinta itu adalah fitrah manusia?

Nabi, orang suci, orang salih dan ulama, mengalami jatuh cinta kepada lawan jenis sebagaimana manusia pada umumnya. Islam tidak melarang seseorang untuk jatuh cinta. Jatuh cinta juga bukanlah aib dan juga bukanlah sebuah dosa. Jatuh cinta adalah hal yang manusiawi dan menjadi naluri yang ada secara alamiah pada setiap manusia normal. Namun, cinta itu terkadang membahayakan. Cinta itu dapat membuat buta dan membuat kita terjatuh pada cinta yang salah.

Ketika seorang laki-laki datang menyapa hatiku, tiada senyuman bahagia. Tiada rona malu di wajah. Tiada perasaan suka di dada. Namun sebaliknya, aku merasakan ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tidak suci. Kegelisahan mulai meraba hatiku karena rasa yang salah arah.

Sudah hampir setahun lebih aku dekat dengan seorang laki-laki. Hari demi hari, percakapan demi percakapan membuat ku dengannya semakin dekat. Hingga tak pernah seharipun dia tak mengabariku. Akhirnya pun aku terlena oleh perasaan ku sendiri. Beberapa kali aku menolak perasaan yang hadir tanpa kehendakku ini. Aku sudah lama berhati-hati datangnya perasaan ini dan berharap aku bisa mencegahnya. Tapi kali ini rasanya sangat sulit untuk menolak seolah hati dan otakku tak berpacu, menerima dengan mudahnya seakan menyuruh untuk menempati kekosongan hatiku.

Selama ini aku peduli, menghargai, memahami dan menyayanginya. Dia pun begitu kepadaku. Tapi aku tak pernah mengakui sikapku padanya. Bukan tak suka, melainkan aku takut. Takut akan kelanjutan hubungan ini menjadi sangat jelas. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk tetap berada di tengah tengah. Agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Bicaraku memang terkadang manis kepadanya, tapi tak jarang juga aku acuh tak acuh. Itu semua aku imbangi agar posisi ku di tengah-tengah tidak berubah.

Tiada kata-kata cinta di antara kami. Yang ada hanyalah aku yang sangat kawatir akan hati yang mulai merindukan laki-laki yang belum halal ataupun mungkin yang tak akan pernah halal bagiku. 
aku bukan tipe orang yang suka menggantungkan perasaan seseorang. Kami saling menyayangi, tapi aku tak bisa memperlakukannya selayaknya  kekasih. Di sisi lain aku islam yang bisa dibilang agamis. Enggak mungkin  aku menyalahkan aturan islam. Aku selalu gelisah atas perasaan ku dengannya. Sampai sampai bingung harus seperti apa menyikapi semua ini. Ada rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut. Dan sampai sekarang aku berusaha mencari cara yang tepat untuk mematikan rasa agar cinta ini menghilang. Aku menyukainya tetapi suka padanya pun tidak merubah sikap ku untuk menjalani sebuah hubungan yang jelas dengannya. Mengakhirinya pun, apa yang mau di akhiri? Pacaran saja tidak.

Aku menyadari akan 1 hal, bahwa mencintai tak harus memiliki. Aku pun tak lantas memanfaatkan perasaan saling suka ini dengan melakukan kegiatan zina. Kami seperti biasa, setiap hari saling mengabari via WhatsApp. Berjumpa itu jarang karna kesibukan masing-masing. Aku selalu bersikap senatural mungkin saat chatan ataupun berjumpa dengannya.

Sekarang, aku berusaha kembali ke jalan Allah. Aku tersadar, bukan tugas manusia memilih jodoh dalam hidupnya. Cinta pun belum tentu akan menentukan siapa jodoh kita. Kita hanyalah pemain, sedangkan sutradaranya adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan seperti ini, rasa ingin melepasnya semakin tinggi. Aku tak lagi merasa gelisah. Aku yakin Allah sudah menyiapkan jodoh untukku. karna jodoh itu ada yang ngatur, mendekat kepada yang ngatur saja.

Seiring berjalannya waktu, masalah datang menghampiri dan membuat hubungan ku dengannya menjadi renggang. Mungkin ini rencana Allah untuk membuatku jauh darinya.  

Ada kesalah pahaman diantara kita, sampai-sampai masalah itu membuatnya cemburu. Hingga dia pun jarang menghubungiku, aku pun tak menguhubunginya juga. Aku tak tau alasannya jarang menghubungi ku. Padahal kami sudah saling memaafkan setelah memperdebatkan itu. Memang, mungkin aku terlalu keras saat memarahinya dan mungkin dia juga merasa bersalah lalu menebus kesalahannya dengan tidak mengabariku.

Pertengkaran kami pun cukup rumit, hingga aku pun juga merasa bersalah akan hal itu. Aku tau cemburu itu murni datangnya dari hati yang terluka karena takut kehilangan seseorang yang berharga. Tapi aku jauh lebih takut jika dia mulai cemburu. Otomatis aku sudah menjadi orang yang sangat berharga baginya. Dan itu membuatku lebih sulit untuk tidak menyukainya.  Dia pun akan lebih sulit melepas ku. Ini kegelisahan terdalam ku. Menjauhi saat rasa ingin memiliki lebih dalam.

Kupikir dengan seperti ini membuatku lebih sulit untuk melepasnya perlahan lahan karna dia jarang menghubungiku, sehingga timbul rasa rindu yang menyiksa. Tapi saat ini, Aku tak peduli seberapa menyiksa rindu itu.  Dengan dia yang jarang memberiku kabar, aku bersyukur. Ini membuatku mudah untuk cepat melupakan rasaku terhadapnya. Aku mengambil hikmah dari kejadian ini. aku mencoba berfikir positif bahwa Allah akan memberi petunjuk yang baik untuk ku dan juga dirinya. aku menyarankan kalian semua terutama diriku sendiri untuk ambil hikmah dari setiap kejadian. jangan selalu menyalahkan keadaan. karena hidup itu akan selalu menjadikan pemiliknya merasa damai. jika mampu memaknai ujian yang selalu ada dengan selalu meyakini bahwa Allah selalu menyiapkan yang sempurna. 

Setelah itu, kami pun benar benar hampir jarang berkomunikasi. Lantas aku pun mulai mengajaknya bicara via WhatsApp terlebih dahulu untuk mengetahui dia benar benar tidak ingin berkomunikasi dengan ku atau dia menunggu chat ku. Ku perhatikan cara dia membalas chatku, benar adanya. Sudah tak sama lagi seperti dulu. Setiap chat yang aku mulai untuk menyapanya, selalu saja dia terlihat ingin mengakhiri percakapan. Entah memang begitu, atau aku yang terlalu cepat menyimpulkan. Yah.. aku bersyukur lah jika benar begitu. Aku tak perlu lagi menyapanya jika tidak penting. Agar dia tak merasa terganggu akan pesan dariku.

Tak lama kemudian aku mendengar kabar, bahwa dia telah dekat dengan seorang wanita. Mendengar kabar tersebut tidak membuatku terkejut. Tapi justru membuat ku cemburu. Entah mengapa aku cemburu. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasa. Cemburupun tak lantas membuatku marah atau memembenci dia dengan orang yang bersamanya sekarang. Itu tak ada kaitannya dengan ku dan aku tak berhak mengurusinya. Cemburu pun aku telan sendiri. Sekali lagi aku bersyukur, Allah punya banyak cara memisahkan aku dengannya. Dengan begitu aku tak usah turun tangan untuk berpisah dengannya.

Walaupun begitu, dengan keadaan ku dengannya yang sekarang,  aku masih peduli dengannya sebagai teman. Tetap selalu menghargai apapun yang dia lakukan. Tidak ada alasan bagiku untuk membencinya. Aku pun saat ini sudah perlahan tidak merasakan perasaan seperti dulu. Sekarang lebih enjoy dan tentram. Jadi seperti biasa selayaknya hati yang normal. Aku juga tidak menyesali apa yang selama ini terjadi kepadaku. Justru aku bersyukur karna aku dapat belajar dari kesalahan. Kali ini, dan seterusnya Aku memilih untuk mencintai dalam diam. dengan siapapun itu. Hanya lewat doa. Hanya aku dengan Allah. Aku yakin sesuatu yang di takdirkan untuk kita, Allah tidak akan membiarkannya menjadi milik orang lain. Jika berjodoh, tentulah akan dipertemukan kembali. 

=end=

Komentar

  1. halo semuanya ^^ ini blog pertama ku. terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita di atas. ambil sisi positif dari cerita di atas , semoga bisa memberi sedikit manfaat.
    saran dan kritiknya silahkan di tulis di komentar.

    BalasHapus

Posting Komentar